Who’s Bad?

Posted on August 9, 2009
Filed Under Cerita | 12 Comments

Who’s Bad?
“What?” Olvia bergidik, “Serius—“
“Psssttt!” setengah teriakannya kuhentikan cepat. “Jangan keras-keras napa, Vi! Ntar Caesar denger…”
Olvia mengangguk girang, dia berbisik lagi, “Thanks ya, Na!”
“Nevermind,” jawabku.
Berikutnya dia langsung keluar kelas dan menggandeng tangan pacar kesayangannya itu. Caesar Dieardhana.
“Woi pulang sana…,” seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku menoleh ke kiri, tapi ternyata dia ada di sebelah kananku. Eh, jahil!
“Iyaaa, ni juga mau pulang.”
“Mau barengan?”
Aku terdiam sejenak. Hehehe, seorang berandal sekolah mengajakku pulang bersama. I don’t think that’s a good idea. Tidak, terima kasih.
“Boleh deh,” kataku riang.
KUINAAAAAA!!! Oh Gosh!! What’s really on your mind???!! Otakku terbelah…
“Udah seharusnya kali kamu punya cowok…,” kata Nino sembari kami berjalan melewati koridor sekolah menuju tempat parkir.
“Seharusnya?” kubuat kata itu jadi nada pertanyaan.
Nino tak menjawab. Salah besar memang kalo aku bakal bisa memahami dia. Tiba-tiba nawarin nganter pulang, trus ngomongin soal cowok. Ato apa aku yang terlalu bego? Obviously not! I’m smart!
“Kalo punya cowok jangan sampe kayak Caesar, he’s truly bad boy!” kata Nino pedas.
Aku menghentikan langkahku. What does he mean? Kamu tu yang bad! Aku mendelik kesal padanya. Tapi dia tetap berjalan di depanku, mungkin pura-pura tak menyadari kalo aku berhenti, aku di belakangnya.
“Jangan ngatain temen aku,” aku berjalan lagi mengejar langkahnya.
“Tapi aku bener kok. Kalo misalnya kamu diajak selingkuh, jangan mau! Apa kamu gak kasihan sama Olvia? Dia kan sahabatmu sendiri,” Nino melanjutkan umpatannya.
Enough!
Saat di tikungan, aku langsung memutuskan untuk terus berjalan, sementara dia berbelok ke kiri.
Tapi…
“Aku nganter kamu pulang!” Nino menarik lenganku sebelum aku berhasil berjalan lurus ke depan. Dia menatapku kesal. Hei! Seharusnya aku yang kesal!
Kami saling diam setelah itu. Atmosfir garing yang bener-bener bikin aku bete. Tapi aku berusaha menikmati sisi posotifnya. Setidaknya uang sakuku minggu ini sedikit hemat karena telah diantar pulang oleh Tuan Berandal Sekolah.
***

“Halo?” aku mengucek mataku, menguap lebar. Kurang ajar bener, siapa yang malem-malem gini telpon aku… Awas banget kalo gak penting!
“Na? Kuina? Udah tidur?” kata suara di seberang.
“Ngg? Caesar?” aku menempelkan hpku di telinga, mungkin posisinya agak salah, mataku tak mau terbuka.
“Hu-uh.”
“Ada apa?” aku berusaha menegakkan tubuhku, menguap lebar sekali lagi.
“Aku… aku marahan sama Olvia.”
Mataku mendadak terbuka tanpa aba-aba, aku memeriksa hpku, ternyata memang posisinya salah. Pantesan suaranya terdengar pelan.
“Siapa marahan?” kuharap aku salah dengar.
“Aku sama Olvia. Dia tadi kan ngasih kado, aku tau kok kamu yang nyaranin kado itu. Aku suka, tapi…”
“Tapi?”
“Aku muak. Dia masih belum bisa memahami aku. Dia tuh masih bergantung sama kamu buat tau tentang aku. Pacar aku tuh dia apa kamu?”
“Sar… trus gimana ceritanya kalian bisa marahan?”
“Kata-kataku barusan juga aku ucapin ke Olvia…”
Gebleeeekkkk! Aku memijat pelipisku pelan.
“Masalah kamu sama dia dari dulu itu-itu aja, ya? Tau gak, aku tu juga muak. Malah aku ngerasa aku yang macarin kalian berdua. Olvia mau ngasih surprise, dia tanya aku. Kamu marahan, lari ke aku. Dasar gak mandiri!” sekarang aku yang marah. Tapi emang bener sih, selama ini mereka selalu gitu.
“Maaf, Na…”
“Maaf, Na…,” kutirukan kata-katanya. “Capek banget tau dibangunin jam 2 pagi buat dengerin kamu curhat. Ato ngabisin jam istirahat nemenin Olvia ngerencanain segala macem surprisenya buat kamu. I have my own life, Sar…”
“Aku ngeliat kamu jalan sama Nino,” dia mengalihkan pembicaraan.
“So?”
“Na, kamu tau kan dia gak baik! He’s bad.”
Bagus! Mereka berdua saling menjelek-jelekkan sekarang.
“Mungkin Nino bener kali, ya? Aku harus punya pacar biar bisa bebas dari kalian.”
“Jangan bilang kamu mau pacaran sama dia?” tanya Nino dalam.
“Kenapa emangnya?”
“Daripada kamu pacaran sama dia, mending kamu pacaran sama aku!!”
Hheeeee??? Aku terhenyak. Mendadak ingat kata-kata Nino tadi siang.
“Hahaha… udah jam 2, jangan bercanda…,” aku tertawa, tapi terdengar sangat memaksa.
“Aku serius. Aku… mau mutusin Olvia. Dari dulu aku kan uda bilang aku gak cocok sama dia. Tapi kamu maksa. Kenapa kamu gak sadar-sadar juga kalo aku ngelakuin ini semua tu buat kamu, Na?”
Aku menggaruk hidungku yang tidak gatal, “Jangan pernah putusin Olvia demi aku. Oke?”
“Kalo gitu…”
“Kalo gitu?”
“Kalo gitu kita backstreet.”
Klik. Aku menutup telpon. Kata-kata terlarang yang diucapkan seorang sahabat. Kamu berdosa, Caesar…
***
Do you believe in yourself? Of course, or just a little, ok perhaps… Oh gak mungkin. Aku hampir gak pernah percaya sama apa yang uda aku lakuin selama ini. Persahabatan yang ada di depan mataku gak berjalan mulus. Setidaknya itu semua emang karena aku.
Aku masih inget dulu Caesar selalu menggandeng tangan kecilku ketika kami melewati pintu masuk taman bermain sewaktu TK. Dia baik sekali padaku, menjaga dan melindungiku. Dia yang terbaik mengenaliku, dan aku juga begitu padanya.
Orang tua kami akrab, tapi itu gak lebih dari betapa dekatnya antara aku dan Caesar. Sayangnya, gak semua dongeng bisa berlanjut manis di kehidupan nyata. Lebih tepatnya, gak ada satu pun dongeng yang bisa begitu. Aku dan Caesar gak bakal bisa bersama selamanya. Kata yang lain, dia menemukan Putri yang baru untuknya, Olvia.
Percayalah hatiku… I’m burned of jealousness. Aku mengumpulkan semua mimpiku bersama dengan dongeng-dongeng impor seperti Cinderella dan meremasnya keras, menjadikannya gumpalan, kemudian menyimpannya dalam kotak yang sama sekali gak ajaib, menguncinya rapat lalu membenamkannya ke dasar laut. Baiklah, dasar hatiku.
Persahabatan harus terus berlanjut, kan? Saling mengenal belum cukup bagi Caesar untuk mengungkapkan seperti apa yang selama ini selalu kurasakan. Atau bahkan dia emang gak pernah merasakannya, itulah yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan yang tumbuh dalam persahabatan.
Tetapi tiba-tiba saja, tadi malam semua mimpi yang uda tersimpan rapat itu berontak keluar. Dia berteriak-teriak kegirangan seperti orang gila, katanya dia harus keluar, secepatnya. Atau kalo aku tetap menguncinya terlalu lama, dia akan menguap begitu saja tanpa pernah bisa aku sadari. Ancaman mimpi bodoh.
“Kuina! Kuina Adella!!!”
“Yes, Ma’am! I know I’m smart!” aku langsung berdiri begitu namaku dipanggil.
Dan tawa seisi kelas meledak disertai pandangan puluhan pasang mata yang terarah padaku.
“Ok, please sit down Miss Adella,” kata Miss Anne padaku sambil membenarkan posisi kacamata perseginya. Beliau menggigit bibir bawahnya pelan.
Aku duduk, beberapa anak masih cekikikan. Ini bukan salahku, ini salah lamunanku, ini salah Caesar, karena tadi malem dia ngajak aku selingkuh guys!!! Aku hampir meneriakkan kalimat itu.
“Please, read the next paragraph on your text book,” kata Miss Anne lagi.
“Yes, Ma’am,” aku melirik Caesar sekilas yang duduk agak jauh di belakangku, dia tersenyum SANGAT MANIS, sementara Olvia yang ada di sebelahnya menduduk menahan tawa. Sialan.
Oh iya, the next paragraph is…?
***
“Tadi ngelamun apa? Hahaha…”
Aku diam saja. Memalukan…
“Bukan apa-apa,” kujawab ketus.
“Yang semalem, ya?” tanyanya lagi.
Aku ke-gap. Tapi aku terus pura-pura memainkan hpku dan gak ngelihat ke arah matanya. Dia bakal tau kalo aku bohong. Aku menebak, kalimat yang dia ucapkan setelah ini adalah… “Oh ayolah, Na… Kamu tau tadi malem aku bercanda. Aku sayang Olvia, hehehe…”
“Oh ayolah, Na… Kamu tau tadi malem,” aku menarik bibirku dan berusaha mulai tersenyum, “aku gak bercanda. Aku sayang kamu, hehehe…”
Senyumku memudar dengan spontan. Aku langsung menatapnya. “He he he, ketawa.”
Wajahnya yang kocak ditutupi dengan senyumnya yang manis. Astaga, jangan meleleh sekarang! C’mon, Na…
“Aku serius, Na. kamu selalu tau kan tentang apa yang uda aku lakuin selama empat bulan ini sama Olvia? Kamu uda sadar dari awal kalo aku sama dia tuh gak cocok,” dia mendekatkan wajahnya padaku, “kita berdua yang lebih cocok.”
Aku menjauh sedikit, jam istirahat sebentar lagi habis, kelas sekarang uda agak rame. “You can’t do this, Caesar Dieardhana,” ucapku seperti Miss Anne ketika menegur murid bandelnya.
“Yes, I can Miss Adella,” sahut Caesar serius.
“Kamu bakal nyakiti Olvia,” aku sedikit berbisik.
“Aku gak akan mutusin dia, dan dia gak bakal tau tentang kita.”
“Aku…,” aku sedikit ragu akan tawaran setan manis ini, “aku yang bakal ngasih tau dia…”
Caesar tertawa. Dia bener-bener tau aku gak bakal ngelakuin itu. “Ya ampun Na, kamu tuh kenapa, sih?”
Pardon? “Kamu yang kenapa…”
“Aku? Aku uda gak tahan, Na! Aku pengen putus tapi kamu ngelarang aku. Kamu gak pengen Olvia sakit, iya kan? Sekarang aku ngajakin kamu backstreet, karena cuma itu satu-satunya cara biar Olvia gak sakit. See?”
Aku menggeleng. “I didn’t see it.”
Tiba-tiba Caesar menggenggam tanganku, “Dari dulu aku cuma sayang kamu, Na…”
“Caesar!” seseorang memanggil.
Caesar melepaskan genggaman tangannya. Kami menoleh. Bencana, Olvia datang.
Dia mendekat dengan wajah kusut. Here we are… ketahuan deh.
“Aku nyariin kamu dari tadi! Ternyata di kelas, berduaan sama Kuina,” kata Olvia kesal. Aku dan Caesar saling memandang.
“Sekarang kalian ikut aku! Aku mau nraktir kalian, tadi malem Oomku yang dari luar kota mampir, aku dapet uang saku lebih!!” wajahnya langsung berubah jadi girang.
Hyaaaaa!!! Kirain apa… detak jantungku normal kembali.
***
Ckiiittt.
Aku sedikit terlonjak ke belakang. Aku memandang seseorang yang mengerem mendadak motornya. Bukan dia yang kuharapkan, aku harus ke sekolah dengan angkutan umum, bukan dengan tuan berandal yang satu ini.
“Naik,” katanya pendek.
Aku mengacuhkannya.
“Kuina, naik,” perintahnya sekali lagi.
“Maumu apa sih, No?” tanyaku akhirnya, kesal.
“Nganter kamu ke sekolah. Bantuin kamu menghemat uang saku.”
Lama, tapi kemudian aku menurut juga. Dia bener. Coba tiap hari dia nganter jemput aku, uang sakuku bakalan bisa buat beli teenlit tanpa mesti nabung lama-lama.
Di perjalanan, seperti sebelumnya, kami sama-sama diam. Aku malas membuka topik pembicaraan dengannya, apapun yang dia katakan selalu membuatku ingin mengajukan pertanyaan yang lebih banyak. Kenapa tiba-tiba dia baik sama aku? Atau, kenapa dia gak pake seragam sekolah padahal dia nganterin aku ke sekolah? Apa dia mau bolos kayak biasanya? Kalo bolos, kenapa dia mau repot-repot nganterin aku? Kenapa dia suka bolos, sih? Pantesan kan jadi gak naek… Suka malakin lagi. Eh tapi dia kan keliatan kayak anak orang kaya, kenapa hobinya malakin adek kelas?
Oke, aku mulai berlebihan dan pertanyaan dalam otakku berputar-putar gak jelas. Atau mungkin… Jangan-jangan… Don’t tell me… Impossible…
Sudah sampai.
“Thanks, Nino!” aku turun dari motornya.
Dan entah ini kebetulan atau bagaimana, secara bersamaan kami berpapasan dengan Caesar yang sedang membonceng Olvia masuk melewati gerbang sekolah. Aku harap ini perasaan konyolku yang berteriak gaduh, tapi sepertinya walaupun sejenak, Caesar sempat memandangku dengan tatapan marah. Nagapain dia mesti marah?
“Aku juga terima kasih,” kata Nino.
“Lho?” aku bingung.
“Kamu mau tau alasan sebenernya kenapa aku tadi jemput kamu?” tanya Nino.
“Ngg… sebenernya itu gak terlalu penting, kan?” aku balas bertanya.
“Alasanku… buat bikin Caesar jealous.”
Unexpected!
Aku melongo. “Ternyata bener…”
“Bener apa?”
“Kamu…,” aku menarik napas dalam-dalam, “kamu suka aku, kan?”
Nino sekarang yang melongo. Dia memandangku seperti orang bodoh. Hei, masa aku salah? Apa lagi maksud lain dari “bikin Caesar jealous”?
“GR banget sih jadi cewek,” kata Nino.
Aku makin bingung. “Aku gak ngerti…”
“Dengerin aku aja, Na. Apapun yang terjadi jangan pernah mau diajak selingkuh sama Caesar,” eh dari mana dia tau kalo… “He’s bad boy, I’ve already told you about it! Aku harap semua yang aku lakuin ke kemu bikin dia sadar siapa yang sebenernya dia sayang dan cepet-cepet mutusin Olvia. Olvia gak berhak buat terluka cuma gara-gara cowok macem dia!”
Bbrrrrrmmmmm…
Dan setelah itu dia pergi dengan cepat.
Aku mencerna kata-katanya dengan susah payah. Olvia gak berhak buat terluka cuma gara-gara cowok macem dia! Jadi sebenernya yang dia suka…
Oh God! Caesar bener, he’s truly bad!
***
“Ikut aku!”
Caesar meremas tanganku dengan kuat, aku ditarik begitu saja. Dia berjalan cepat sekali, aku sampai harus setengah berlari biar bisa nyamain langkahnya. Beberapa anak di koridor memperhatikan kami, tapi sepertinya Caesar pura-pura gak peduli. Aku gak tau dia mau bawa aku ke mana, tapi ketika dia berbelok ke arah kiri setelah perpustakaan, aku baru sadar. Lab drama.
Ruangan itu selalu sepi saat jam pelajaran sekolah. Caesar membuka pintunya, menutupnya lagi, lalu mendorongku dengan kasar.
“Apa-apaan, sih!” jeritku bete.
“Kamu gak dengerin aku, ya?” tanya Caesar, nadanya sedih.
“Dengerin apa?” balasku ketus.
“Nino. Ngapain tadi pagi dia nganterin kamu segala?”
“Lho, emangnya kenapa? Dia jomblo, aku jomblo, gak akan ada yang marah kalo aku sama dia berangkat sekolah bareng, kan?”
Caesar memandangku tanpa berkedip. Lama sekali. Aku mulai gak nyaman.
“Aku marah,” katanya kemudian.
“Kamu bukan pacarku,” kataku, rasanya sakit banget bilang gitu.
“Iya, kamu bener,” Caesar mengacak rambutnya frustasi. “Aaarrrgggghhh!!!” teriaknya marah. Kemudian dia memandangiku lagi.
Tiba-tiba dia berlutut di depanku, “Siapa aja boleh, Na. Tapi tolong jangan Nino…”
Eh, apa-apaan coba nih anak?
“Berdiri,” perintahku.
Dia tak bergeming. “Please, jangan Nino…,” begitu malah katanya.
“Caesar, berdiri gak?” ulangku.
Dia tetap berlutut. Aku meraih tangannya, tapi dia balik menarik tanganku dan malah membuatku ikut berlutut di depannya. Kejadiannya terlalu cepat, mendadak aku uda ngerasain bibirku menjadi agak lembab.
Dia menciumku, sekali.
Dua kali.
Aku membalasnya.
Lagi.
Semenit.
Dua menit.
Aku terhipnotis…
Menit ketiga aku mendorongnya. Napasku memburu. What I’ve done? Oh God…
Aku buru-buru meninggalkan dia. Dia memanggilku tapi aku gak mau menoleh. Ini salahnya. Ini salah Nino. Ini salahku. Ini salah kami. Gak!! Ini salahku… The one and only bad is me…
***
“Kuinaa… ada Caesar…,” teriak Bunda dari arah beranda.
Aku tak menyahut. Bodo amat ah, biar pulang aja dia.
“Kuinaaaaa!!” panggil Bunda lagi.
Aku masih diem.
Setelah itu aku tak mendengar suara Bunda. Hohoho, pasti Caesar uda pulang. Baguslah kalo—
Ceklek… pintu kamarku terbuka. Manusia paling gak pengen aku temui itu malah mendadak nongol di kamarku. What the hell…
“Ngapain kamu ke sini?” tanyaku.
“Bunda kamu nyuruh masuk, habis kamu gak jawab-jawab pas dipanggil tadi…,” jawabnya sambil menutup lagi pintu kamarku. Ortuku uda percaya banget sama ni anak, satu-satunya temen cowok yang dibolehin masuk ke kamarku ya cuma dia.
Jawaban Caesar bener juga, tapi sebenernya bukan itu yang aku maksud. Dan sepertinya dia mengerti. Setelah mengambil kursi di dekat meja belajar dan duduk, dia berkata lagi.
“Maaf soal yang tadi siang.”
Aku mengacuhkannya. Aku pura-pura asik memainkan hpku.
“Kenapa sih tiap aku ngomong yang kamu liatin malah hp? Gak usa pura-pura deh Na, cari pelampiasan lain kek, baca novel kek, belajar kek…,” katanya lagi.
Aku membanting hpku ke kasur. Lalu memandangnya.
Kami saling menatap, lama.
“Aku ngerasa bersalah sama Olvia,” kataku akhirnya.
“Gak perlu, bukan kamu yang salah…”
Kata-kata Caesar malah bikin seolah-olah aku satu-satunya orang yang emang harus disalahkan.
“Nino bukannya naksir aku,” kataku mengalihkan sedikit pembicaraan.
“Maksud kamu?”
“Dia suka Olvia…,” aku menunduk sebentar, gak berani liat ekspresi wajah Caesar.
“Aku tau, mereka dulu sempet pacaran. Dan salah satu alesan aku jadian sama Olvia, buat ngelindungi dia dari Nino. Olvia bilang Nino tuh kasar. Kamu seneng kan kalo aku gak mutusin Olvia?”
Aku terhenyak. Dia tau banyak tapi gak ngasih tau sama sekali ke aku? Oh hebat…
“Ternyata aku salah. Sekarang aku malah gak bisa ngelindungi kamu kayak dulu,” lanjutnya.
“Gak perlu,” sahutku cepat.
“Kamu masih belum percaya kalo aku beneran sayang sama kamu?” tanyanya.
Aku percaya… tapi bukan gini caranya… Kenapa kamu gak bilang dari dulu sebelum kamu jadian? Aku gak bakal pernah bisa nerima kalo cuma jadi selingkuhan kamu, aku gak bisa nyakitin Olvia. She isn’t bad girl, aku gak tega.
“Aku gak percaya, karena pacar kamu Olvia, harusnya kamu lebih sayang dia,” aku bohong.
“Seenggaknya kenapa kita gak nyoba dulu? Kasih aku kesempatan…,” dia memohon.
Kesempatan? Kesempatan untuk menyakiti? Kamu uda ngelakuin itu tau!
“Kamu pulang aja, aku gak bisa mikir kalo kamu di sini,” mendadak aku mengusirnya. Tapi aku jujur soal yang satu ini.
“Na…,” panggilnya memelas.
“Nanti aku telpon,” hiburku.
Dia tersenyum berat, lalu bangkit.
“Aku pengen jawaban,” dia mencoba meraih tanganku tapi aku menghindar.
“Nanti aku telpon,” ulangku.
Barulah setelah itu dia pergi. Aku ngikuti dia, tapi gak nganterin dia. Sampai dia menaiki motornya dan menghilang di tikungan jalan, aku memperhatikannya terus. Ya ampun… apa aku harus bener-bener nerima dia? Should I be bad to get my happiness?
“Kuina!!” seseorang memanggilku dari arah berlawanan Caesar pergi.
“O… Olvia?” aku kaget setengah mati. Apa dia tau…?
“Ngapain kamu berdiri di pinggir jalan gini?” tanyanya.
Aku menggeleng, “Anu… nyari tukang bakso… hehehe,” jawabku garing.
“Ada-ada aja! Eh, aku gak diajak masuk nih?”
“Oh iya, yuk…”
Aku mengajak Olvia ke ruang tamu, tapi dia menolak. Katanya cuma mampir, jadi ngobrol di beranda aja. Dia bilang dia dari bimbel yang ada di deket rumahku, beda blok tapi masih satu komplek.
“Minum apa, Via?” tanyaku .
“Gak deh, bentar aja kok.”
“Gak capek? Tadi bukannya dari tempat bimbel ke sini kamu jalan?”
“Ya ampun nyantai aja kali, Na. Ntar kalo aku haus, aku bilang deh. Hehehe…”
“Trus tadi yang nganter kamu bimbel siapa? Belum dijemput?”
“Dianter Caesar, tapi tau nih kok dia belum jemput-jemput juga, ya? Aku sms aja deh biar ntar dia jemputnya ke sini. Gak papa kan, Na?”
Aku mengangguk ragu.
“Ngg… Caesar tadi uda ke sini, ya?” tanya Olvia tiba-tiba.
Mati aku.
“I… iya, dia gak bilang?” aku balas bertanya.
“Bilang kok,” fiuhh syukurlah, “tapi kenapa dia gak sekalian nunggu aku di sini aja, ya?”
Aku diem aja. Aku uda mulai berkeringat dingin. Bisa-bisanya tadi aku sempet mikir buat nerima Caesar. Sekarang aku bener-bener ngerasa bersalah…
“Dia lama di sini?” tanya Olvia.
Bisa gak sih kita gak ngomongin Caesar mulu, Via? Batinku berontak.
“Bentar kok,” jawabku singkat.
“Ngobrol apa aja?” Olvia bertanya terus.
Ngobrolin itu… jantungku berdegup gak teratur. Semakin aku bohong, semakin aku gak berani mandang wajah Olvia.
“Biasalah…,” jawabku gak jelas sambil maksa senyum.
Olvia diam setelah itu. Sampe sekarang aku belum paham sebenernya dia mampir ke rumahku nih mau ngapain. Kalo cuma soal tentang Caesar, kenapa gak besok aja di sekolah?
“Aku tau kok, Na…,” kata Olvia tiba-tiba sambil mengalihkan pandangannya ke jalanan.
“Tau apa?” tanyaku.
“Semuanya…”
Semuanya? Maksudnya? Gak mungkin… Jangan bilang kalo…
“Caesar masih sayang kamu, ya kan?” Olvia mendadak menatapku tajam.
Aku terbata, “Kok… kamu bilang… gitu?”
“Bilang aja iya,” desak Olvia.
Aku nyengir, “Dia pacar kamu, yang dia sayang… ya kamulah,” berat banget ngomong gitu.
“Aku kan bilang aku tau semuanya. Kenapa kamu ragu-ragu?” Olvia mendelik, aku takut. “Sekarang jawab aku, apa kamu juga sayang Caesar?”
Aaarrrrggghhh!! Kenapa dia mesti tanya kayak gitu??
“Jujur aja, Na. I’m fine, really,” Olvia tersenyum manis.
Aku menarik napas dalam-dalam, “Maafin—“
“Sorry, Na,” potong Olvia. Pandangannya mengarah ke jalanan lagi. “I can’t let him go.”
Apa?
“Uda kuduga, kalian bakal mengkhianati aku. Aku tau dari dulu Caesar gak pernah sayang sama aku. Yang ada di hatinya cuma kamu, aku gak sepenting itu di mata Caesar.”
Ya ampun, Via… Aku bener-bener—
“Tapi Na,” dia menatapku lagi, “Caesar itu punyaku, aku gak akan ngebiarin dia lepas gitu aja. Aku gak mau kalo sampe kamu ngerebut dia dari aku. Aku gak bakal ngebiarin kamu backstreet sama dia. Aku gak rela kamu seneng di atas penderitaan aku, walaupun kamu sahabat aku sendiri. He’s mine, Na…,” kata-katanya pedas sekali.
Aku pikir dia minta maaf karena apa…
“Do you get it?” aku tak bergeming, “He’s only mine, don’t be bad girl by steal my boy!”
Rahangku mengatup. Aku gak pernah nyangka Olvia bakal bilang begitu sama aku. Beberapa menit yang lalu aku memutuskan untuk menerima Caesar, tapi menit berikutnya aku sangat ragu karena kupikir perbuatanku akan sangat menyakiti Olvia. Dan sekarang… sekarang aku baru sadar. Olvia gak selunak itu. The bad one is her…
###

*what do u think guys ?
*ha3
norak ya~

Sumber: Notenya Adna

Baca artikel menarik yang lainnya

Comments

12 Responses to “Who’s Bad?”

  1. Vindo on August 12th, 2009 12:39 am

    aku ra mudeng :roll:

    [Reply]

  2. Fuad on August 23rd, 2009 7:18 am

    jauh, kedawan, males mocone :p

    [Reply]

  3. bagus on August 23rd, 2009 7:44 pm

    inti y opo tow?

    [Reply]

  4. Derby on August 30th, 2009 8:26 am

    Seru juga ceritanya

    [Reply]

  5. ndop on September 1st, 2009 12:43 pm

    sing nulis sopo iki?

    kowe kah??

    pirang ndino nggawene?

    [Reply]

  6. aditya permana on September 1st, 2009 9:08 pm

    dengaren ada cerita :P

    [Reply]

  7. Bintang on September 3rd, 2009 11:11 pm

    Hmmmmm komen dulu baru baca

    [Reply]

  8. naduank on September 14th, 2009 2:11 pm

    he3 ,,
    makasih yg bilang lumayan^^

    [Reply]

  9. nug on September 18th, 2009 2:24 pm

    Wih mayan wuapik, sampek motoku pedes mocone sakeng dowone :lol:

    tapi wi gaweanmu po duduk?

    [Reply]

  10. Hello Word Again and Again | Bagi bagi link - NugGix (Beta) on October 12th, 2009 12:28 pm

    [...] Mas Drajad – La meski cuman baru pertama kali ketemu tapi dia juga blogger madiun, yang kuliah di malang jadinya jarang ketemu , tapi kadang-kadang aku juga smsan lo… . [...]

  11. Drajad on November 29th, 2009 2:25 pm

    @mas evin
    iki tulisane adna kang.
    @fuad
    dasar anak malas :p
    @bagus
    baca aja ndiri om
    @derby
    thanks yah
    @ndop
    dudu kang, iki tulisane bocah tak posting
    @aditya permana
    hehehe
    @bintang
    silahkan baca :D
    @adna
    :P
    @nug
    dudu lah

    [Reply]

  12. kepinghidup on December 30th, 2009 5:44 pm

    Bagus tulisannya…pernah kepingin bikin novel? aku dukung… pernah kepikir tulis skenario film? aku ikutan :-) salam madiun

    [Reply]

Leave a Reply




-->