Who’s Bad?
Who's Bad?
“What?” Olvia bergidik, “Serius—“
“Psssttt!” setengah teriakannya kuhentikan cepat. “Jangan keras-keras napa, Vi! Ntar Caesar denger…”
Olvia mengangguk girang, dia berbisik lagi, “Thanks ya, Na!”
“Nevermind,” jawabku.
Berikutnya dia langsung keluar kelas dan menggandeng tangan pacar kesayangannya itu. Caesar Dieardhana.
“Woi pulang sana…,” seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku menoleh ke kiri, tapi ternyata dia ada di sebelah kananku. Eh, jahil!
“Iyaaa, ni juga mau pulang.”
“Mau barengan?”
Aku terdiam sejenak. Hehehe, seorang berandal sekolah mengajakku pulang bersama. I don’t think that’s a good idea. Tidak, terima kasih.
“Boleh deh,” kataku riang.
KUINAAAAAA!!! Oh Gosh!! What’s really on your mind???!! Otakku terbelah…
“Udah seharusnya kali kamu punya cowok…,” kata Nino sembari kami berjalan melewati koridor sekolah menuju tempat parkir.
“Seharusnya?” kubuat kata itu jadi nada pertanyaan.
Nino tak menjawab. Salah besar memang kalo aku bakal bisa memahami dia. Tiba-tiba nawarin nganter pulang, trus ngomongin soal cowok. Ato apa aku yang terlalu bego? Obviously not! I’m smart!
“Kalo punya cowok jangan sampe kayak Caesar, he’s truly bad boy!” kata Nino pedas.
Aku menghentikan langkahku. What does he mean? Kamu tu yang bad! Aku mendelik kesal padanya. Tapi dia tetap berjalan di depanku, mungkin pura-pura tak menyadari kalo aku berhenti, aku di belakangnya.
“Jangan ngatain temen aku,” aku berjalan lagi mengejar langkahnya.
“Tapi aku bener kok. Kalo misalnya kamu diajak selingkuh, jangan mau! Apa kamu gak kasihan sama Olvia? Dia kan sahabatmu sendiri,” Nino melanjutkan umpatannya.
Enough!
Saat di tikungan, aku langsung memutuskan untuk terus berjalan, sementara dia berbelok ke kiri.
Tapi…
“Aku nganter kamu pulang!” Nino menarik lenganku sebelum aku berhasil berjalan lurus ke depan. Dia menatapku kesal. Hei! Seharusnya aku yang kesal!
Kami saling diam setelah itu. Atmosfir garing yang bener-bener bikin aku bete. Tapi aku berusaha menikmati sisi posotifnya. Setidaknya uang sakuku minggu ini sedikit hemat karena telah diantar pulang oleh Tuan Berandal Sekolah.
***
Artikel yang dicari:
Pementasan Drama Hansel and Gretel di Lab Drama Fakultas Sastra UM
Kemarin, kelompok drama saya melakukan pementasan drama yang berjudul Hansel and Gretel di Lab (Laboratorium) Drama Fakultas Sastra di E6. Drama yang kami tampilkan tersebut adalah drama yang telah digubah atau diubah dari script aslinya dan dijadikan sebagai cerita komedi. Saat pertama kali, kami, khususnya saya, ragu jika drama yang akan kami tampilkan ini akan menjadi lucu karena drama ini terkesan "mekso". Namun ternyata, diluar hal yang kami perkirakan, seluruh penonton malah tertawa terbahak bahak karena banyaknya improvisasi oleh sebagian besar pemain. Pokoknya, intinya, pada dasarnya, asline, sing pasti, saya bangga pada kesukseksan drama yang dimainkan oleh kelompok saya (walaupun saya hanya sebagai pemegang musik). Terima kasih saya ucapkan kepada semua orang yang telah membantu menjadikan drama kami ini sukses.