30 Tahun Yang Lalu
Selamat pagi..
Mungkin, kau akan bertanya-tanya siapa aku. Wajar saja, kita mungkin dan belum tentu akan bisa bertemu, namun aku tahu semua tentang dirimu. Semuanya, percayalah padaku. Kau mungkin akan penasaran setelah membaca surat ini, tentang aku, tentang apa yg terjadi padaku setelah kau membaca surat ini, tentang apa yg seharusnya kau lakukan setelah membacanya, tentang banyak hal. Jangan bingung, ikuti saja hatimu. Dan dari semua pertanyaan yg ingin kau tanyakan padaku, hanya satu hal yg perlu kau tahu, aku perduli padamu dan aku takkan ada tanpa dirimu.
Kenangan itu rapuh, begitu kata orang di tempatku. Dan memang, dari semua hal yg ku ingat tentangmu, begitu sedikit yang aku bisa tuliskan di sini. Semua kadang tampak kabur, dan kadang tampak cerah. Namun, ingatkah kau dengan impianmu untuk menjadi seorang pianis di kelas 3 SD? Atau menjadi pemain sepak bola ketika kau kelas 6 SD? kau mungkin bertanya-tanya bagaimana aku tahu. Aku semua tentangmu, kawan. Apapun itu. ‘Bagaimana?’ kau mungkin penasaran. Aku akan menjawab namun sebelum kau mengatakan ‘omong kosong’ atau ‘tidak mungkin’, kau harus berjanji untuk percaya apa saja yang akan aku tulis setelah kalimat ini dan terus membaca surat ini. Aku tahu karena aku adalah dirimu 30 tahun ke depan.