30 Tahun Yang Lalu
Selamat pagi..
Mungkin, kau akan bertanya-tanya siapa aku. Wajar saja, kita mungkin dan belum tentu akan bisa bertemu, namun aku tahu semua tentang dirimu. Semuanya, percayalah padaku. Kau mungkin akan penasaran setelah membaca surat ini, tentang aku, tentang apa yg terjadi padaku setelah kau membaca surat ini, tentang apa yg seharusnya kau lakukan setelah membacanya, tentang banyak hal. Jangan bingung, ikuti saja hatimu. Dan dari semua pertanyaan yg ingin kau tanyakan padaku, hanya satu hal yg perlu kau tahu, aku perduli padamu dan aku takkan ada tanpa dirimu.
Kenangan itu rapuh, begitu kata orang di tempatku. Dan memang, dari semua hal yg ku ingat tentangmu, begitu sedikit yang aku bisa tuliskan di sini. Semua kadang tampak kabur, dan kadang tampak cerah. Namun, ingatkah kau dengan impianmu untuk menjadi seorang pianis di kelas 3 SD? Atau menjadi pemain sepak bola ketika kau kelas 6 SD? kau mungkin bertanya-tanya bagaimana aku tahu. Aku semua tentangmu, kawan. Apapun itu. ‘Bagaimana?’ kau mungkin penasaran. Aku akan menjawab namun sebelum kau mengatakan ‘omong kosong’ atau ‘tidak mungkin’, kau harus berjanji untuk percaya apa saja yang akan aku tulis setelah kalimat ini dan terus membaca surat ini. Aku tahu karena aku adalah dirimu 30 tahun ke depan.
Artikel yang dicari:
Realita Itu Menghidupkan Kita
Sepertinya sudah lama aku gak menyambanig blog ini. Blog pribadiku dimana aku bisa menulis seenak udelku. Hari ini aku mau curhat dikit kawan, tentang diriku yang belum saja lulus dari the learning university. Sebagian besar teman - temanku kuliah sudah lulus September lalu. Jika melihat hal itu aku seakan miris dan iba terhadap diriku sendiri. Mengapa mereka bisa dan aku gak bisa. Oke lah aku bisa menerima karena waktt itu dihadapkan dengan tiga masalah yang menurutku cukup besar; masalah keluarga, masalah kuliah, dan masalah cewek. Tiga hal itu waktu itu membuatku seakan strees dan seakan pengen nangis kalaupun aku bisa.
Saat itu aku menerjang zona amanku, mencoba melakukan yang baru demi mendapatkan ketenangan batin. Saat itu, keinginanku seakan di amini oleh alam. Ada temanku yang mengajakku mendaki. Aku ingat betul saat itu aku diajak ke Gunung Ijen. Akhirnya tanpa pikir panjang aku bobol tabunganku demi bisa ikut ke gunung itu. Sejak saat itu aku sedikit lupa dengan masalahku dan aku mulai lebih suka dengan alam. Bromo, Semeru, Ijen, Argopura sudah kuajak kenalan dengan diriku yang pemalu.
Baru baru ini aku sadar, mungkin masalah masalah itu lah yang menguatkanku, memberikan sebuah tantangan untuk membuat kita lebih hidup. Tidak seperti robot yang selalu stabil tidak ada masalah apapun. Mungkin pada waktu itu aku merasa menjadi orang yang paling berat diberi cobaan oleh Tuhan namun aku sadar hal itu untukku juga. Tuhan merasa ilmu hidupku belum cukup dan cara mengajarkannya ilmu hidup yaitu dengan cobaan dan realita.
Lama Tak Online, Akhirnya Kangen Juga
Hufh, sudah lama aku tak online. Terlalu sibuk dengan urusan CCU yang menurut teman-teman adalah mata kuliah yang paling "juara". Aku juga terlalu sibuk dengan kesibukan baruku yaitu maen dota
. Hehehe. AYo rek, spo gelem maen dota mbek aku
.
nb:maap kalo postingan in gak mutu dan terlalu singkat
Who’s Bad?
Who's Bad?
“What?” Olvia bergidik, “Serius—“
“Psssttt!” setengah teriakannya kuhentikan cepat. “Jangan keras-keras napa, Vi! Ntar Caesar denger…”
Olvia mengangguk girang, dia berbisik lagi, “Thanks ya, Na!”
“Nevermind,” jawabku.
Berikutnya dia langsung keluar kelas dan menggandeng tangan pacar kesayangannya itu. Caesar Dieardhana.
“Woi pulang sana…,” seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku menoleh ke kiri, tapi ternyata dia ada di sebelah kananku. Eh, jahil!
“Iyaaa, ni juga mau pulang.”
“Mau barengan?”
Aku terdiam sejenak. Hehehe, seorang berandal sekolah mengajakku pulang bersama. I don’t think that’s a good idea. Tidak, terima kasih.
“Boleh deh,” kataku riang.
KUINAAAAAA!!! Oh Gosh!! What’s really on your mind???!! Otakku terbelah…
“Udah seharusnya kali kamu punya cowok…,” kata Nino sembari kami berjalan melewati koridor sekolah menuju tempat parkir.
“Seharusnya?” kubuat kata itu jadi nada pertanyaan.
Nino tak menjawab. Salah besar memang kalo aku bakal bisa memahami dia. Tiba-tiba nawarin nganter pulang, trus ngomongin soal cowok. Ato apa aku yang terlalu bego? Obviously not! I’m smart!
“Kalo punya cowok jangan sampe kayak Caesar, he’s truly bad boy!” kata Nino pedas.
Aku menghentikan langkahku. What does he mean? Kamu tu yang bad! Aku mendelik kesal padanya. Tapi dia tetap berjalan di depanku, mungkin pura-pura tak menyadari kalo aku berhenti, aku di belakangnya.
“Jangan ngatain temen aku,” aku berjalan lagi mengejar langkahnya.
“Tapi aku bener kok. Kalo misalnya kamu diajak selingkuh, jangan mau! Apa kamu gak kasihan sama Olvia? Dia kan sahabatmu sendiri,” Nino melanjutkan umpatannya.
Enough!
Saat di tikungan, aku langsung memutuskan untuk terus berjalan, sementara dia berbelok ke kiri.
Tapi…
“Aku nganter kamu pulang!” Nino menarik lenganku sebelum aku berhasil berjalan lurus ke depan. Dia menatapku kesal. Hei! Seharusnya aku yang kesal!
Kami saling diam setelah itu. Atmosfir garing yang bener-bener bikin aku bete. Tapi aku berusaha menikmati sisi posotifnya. Setidaknya uang sakuku minggu ini sedikit hemat karena telah diantar pulang oleh Tuan Berandal Sekolah.
***
Artikel yang dicari:
Pementasan Drama Hansel and Gretel di Lab Drama Fakultas Sastra UM
Kemarin, kelompok drama saya melakukan pementasan drama yang berjudul Hansel and Gretel di Lab (Laboratorium) Drama Fakultas Sastra di E6. Drama yang kami tampilkan tersebut adalah drama yang telah digubah atau diubah dari script aslinya dan dijadikan sebagai cerita komedi. Saat pertama kali, kami, khususnya saya, ragu jika drama yang akan kami tampilkan ini akan menjadi lucu karena drama ini terkesan "mekso". Namun ternyata, diluar hal yang kami perkirakan, seluruh penonton malah tertawa terbahak bahak karena banyaknya improvisasi oleh sebagian besar pemain. Pokoknya, intinya, pada dasarnya, asline, sing pasti, saya bangga pada kesukseksan drama yang dimainkan oleh kelompok saya (walaupun saya hanya sebagai pemegang musik). Terima kasih saya ucapkan kepada semua orang yang telah membantu menjadikan drama kami ini sukses.